SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Posted by Unknown | Posted in | Posted on 07.17

0

              PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
DALAM BIDANG AKUAKULTUR

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem informasi spasial berbasis komputer yang mempunyai fungsi pokok untuk menyimpan, memanipulasi, dan menyajikan semua bentuk informasi spasial. SIG juga merupakan alat bantu manajemen informasi yang berkaitan erat dengan sistem pemetaan, analisis dan pengolahan data terhadap segala sesuatu informasi yang terjadi di muka bumi dan bereferensi keruangan (spasial). Data yang ada diolah dalam suatu basis data. Sistem informasi geografi bukan sekedar sistem komputer untuk pembuatan peta, melainkan juga merupakan alat analisis. Keuntungan alat analisis adalah memberi kemungkinan untuk mengidentifikasi hubungan spasial diantara feature data geografis dalam bentuk peta. SIG merupakan alat yang dapat digunakan untuk menunjang pengelolan sumberdaya yang berwawasan lingkungan. 

Penelitian yang dilakukan dalam jurnal yang berjudul “Aplikasi SIG Untuk Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Holothuria scabra dengan Metode Penculture di Pulau Mantang, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan”, bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kawasan budidaya teripang menggunakan Aplikasi SIG yang disajikan atau keluaran dalam bentuk Peta Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Pasir Holothuria scabra dengan metode Penculture di Kecamatan Mantang. Pemanfaatan SIG sangat berkontribusi bagi perkembangan budidaya. SIG dapat membantu untuk mengambarkan dan mengerti kondisi sumberdaya alam dan kegiatan manusia. Bersamaan dengan perkembangan, ketersediaan data dan informasi tersebut, kemampuan SIG untuk menyimpan, menganalisis dan menampilkan informasi yang tersedia.

Dalam perikanan budidaya, aplikasi teknologi ini dapat ditemukan mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan dan pemantauan. Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat melihat objek pada jarak tertentu, mendeteksi atau mengukur sifat-sifat karakteristik objek, tanpa mendatangi objek tersebut. SIG merupakan analisis secara spasial (keruangan) yang dapat memadukan beberapa data dan informasi tentang budidaya perikanan dalam bentuk lapisan (layer) yang dapat di tumpang lapiskan (overlay) pada data yang lain, menghasilkan suatu keluaran baru dalam bentuk peta tematik memiliki tingkat efisiensi dan akurasi yang cukup tinggi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data lapangan terhadap kondisi perairan laut di Pulau Mantang, Kecamatan Mantang, Provinsi Kepulauan Riau, penyusunan basis data dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan arc view. Penentuan lokasi penelitian merupakan tempat yang secara langusng mempengaruhi kehidupan biota ini. Kriteria pemilihan kawasan yang sesuai bagi budidaya teripang yaitu, keterlindungan pantai, kondisi dasar perairan, parameter fisika dan kimia, dan faktor pembatas. Hasil penelitian di perairan laut Pulau Mantang diperoleh luasan kesesuaian kawasan budidaya teripang yaitu : kelas sesuai (S2) berdasarkan garis pantai panjangnya 15,98 km2 dan dari garis pantai ke arah laut luasnya 39.78 km2. Dari luas kelas sesuai untuk kawasan budidaya teripang diperoleh 39 unit wada budidaya penculture dengan luas 1000 m2. Sedangkan untuk 500 m2 unit didapatkan 78 unit wada budidaya penculture. Kelas tidak sesuai (N) berdasarkan garis pantai panjangnya 18,15 km2, dan dari garis pantai kearah laut luasnya 59.96 km2.

BIOINFORMATIKA

Posted by Unknown | Posted in | Posted on 10.52

0



Bioinformatics tools in predictive ecology:
applications to fisheries
Allan Tucker1, and Daniel Duplisea

Bioinformatika di bidang perikanan adalalah segala bentuk informasi dan segala bentuk teknologi yang mendukung kegiatan dalam bidang perikanan seperti , rekayasa genetika, penerapan teknologi tepatguna, modifikasi pakan bagi kultivan yang dipelihara, dan lain-lain. Telah ada upaya besar dalam kemajuan teknik analisis untuk data molekul biologi selama dekade terakhir. Hal ini telah menyebabkan banyak algoritma baru yang khusus untuk menangani data yang terkait dengan fenomena biologis, seperti ekspresi gen dan interaksi protein.


Bioinformatika telah merevolusi cara dalam menganalisis data biologi molekuler. Karena ledakan di pengumpulan data dan penyimpanan data, telah ada tuntutan untuk teknik spesialis dalam menganalisa model data seperti eksperimen microarray, yang dapat mengukur ekspresi ribuan gen secara bersamaan. Kemajuan dalam penelitian di bidang tersebut termasuk pembelajaran analisis data yang cerdas dan telah mengakibatkan banyak alat baru untuk menganalisis. Salah satu teknik seperti clustering pada awalnya sangat populer untuk mengidentifikasi kelompok gen dengan profil ekspresi yang sama. Hal ini memungkinkan ahli biologi untuk mengidentifikasi susunan gen dan mengurangi jumlah besar variabel ketika membentuk model untuk prediksi. 

Sejak penurunan drastis dari populasi ikan yang terjadi di beberapa kawasan di seluruh dunia muncul penelitian tentang penyebab dari hal tersebut. Penelitian ini meliputi spesies, serta efek tidak langsung dari modifikasi dari jaring makanan dan struktur fungsional. penggunaan teknologi informasi terbaru dan BNS (jaringan bayesian) adalah metode lain yang diterapkan pada masalah ini.

Jurnal ini fokus pada penerapan teknik bioinformatika yang digunakan untuk biomassa. Data diambil dari Georges Bank (GB), Timur Scotian Shelf (ESS) dan Laut Utara (NS) antara tahun 1960 dan 2007.  Penelitia yang dilakukan fokus pada biomassa ikan cod yang mengalami penurunan drastis 20 tahun terakhir. Hal tersebut sebagian besar disebabkan oleh kematian karena penangkapan dan lemahnya interaksi spesies tersebut baik dengan spesies lain maupun dengan lingkungan sekitar.

Ikan Turbot

Posted by Unknown | Posted in | Posted on 08.26

0

Paper Review
Budidaya Ikan Turbot (Scophthalmus maximus)

ABSTRAK

Ikan Turbot (Psetta maxima) adalah spesies laut bentik. Ikan ini termasuk dalam jenis ikan demersal karena hidup di dasar berpasir dan berlumpur, dari perairan dangkal hingga 100 m. Ikan Turbot merupakan ikan yang mengalami metamorfosis karena pada saat larva ikan ini seperti ikan normal lainnya, namun pada saat dewasa ikan ini bermetamorfosis sehinga kedua matanya berada di sisi yang sama.
            Turbot dipilih untuk budidaya pada awal tahun 1970, baik di Inggris dan Perancis karena nilai komersial dan laju pertumbuhan dalam kondisi intensif yang berpotensi. Awalnya pekerjaan utama dilakukan di pusat penelitian negara termasuk di Inggris, dan di Perancis. Upaya telah difokuskan pada teknik pemeliharaan larva, pasokan telur dan produksi mangsa hidup. Tahap pertama metamorfosis larva ke tahap remaja di laboratorium diperoleh pada tahun 1970 dan 1972 di Inggris dan Perancis. Sebaliknya, upaya penelitian pada growout dari remaja telah dibatasi di Perancis, sedangkan di Inggris tangkapan laut turbot muda telah digunakan oleh perusahaan-perusahaan komersial selama 10 tahun untuk mendirikan teknik growout dasar.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ikan Turbot (Psetta maxima) adalah spesies laut bentik. Ikan ini termasuk dalam jenis ikan demersal karena hidup di dasar berpasir dan berlumpur, dari perairan dangkal hingga 100 m. Individu yang lebih muda cenderung tinggal di daerah dangkal. Cryptic, meniru warna substrat, dan bersifat karnivora, pada fase juvenil memakan moluska dan krustasea, dan pada ikan dewasa  makanan utamanya ikan dan cumi. Ikan ini banyak ditemukan di Laut Icelandic sampai ke Mediterrania. Ikan Turbot bertelur antara bulan Februari dan April di daerah Mediterania dan antara bulan Mei dan Juli di daerah Atlantic. Larva yang awalnya
simetris, tapi pada akhir metamorfosis (hari ke 40-50, 25 mm) mata kanan telah pindah ke kiri, memberikan bentuk yang asimetri. Sebelumnya dikenal sebagai Scophthalmus maximus.

            Semua spesies teleost (ikan bertulang) flatfish telah berevolusi untuk hidup pada atau dekat dasar laut. Mereka berbentuk datar karena mereka benar-benar berbaring di satu sisi tubuh mereka, dan mata yang akan berada di bawah bermigrasi ke sisi atas selama pengembangan awal. semua larva flatfish berenang bebas dan planktonik, dan berorientasi secara normal seperti ikan bulat bertubuh. Proses perubahan menjadi satu sisi dan menjadi datar disebut metamorfosis, dan dalam kasus turbot terjadi antara hari ke 14 dan Hari ke 25 setelah menetas. Sebenarnya ada 3 spesies flatfish di Eropa, semua termasuk dalam famili Bothidae yaitu, Atlantic turbot, Black Sea turbot, Brill.

Black Sea Turbot atau  yang disebut Kalkan, (Psetta maxima, mantan Psetta maeotica) telah menjadi salah satu yang paling populer dan tinggi nilai pasar ikan di Turki. Persaingan antara petani berhadapan dengan laut bass dan produksi ikan air tawar laut serta krisis ekonomi di seluruh dunia, telah menyebabkan sektor untuk mencari spesies ikan baru.
Oleh karena itu, prospek Kalkan diharapkan oleh petani ikan meningkat. Namun, di Turki, Kalkan berbudaya belum memberikan kontribusi di pasar, karena kekurangan informasi mengenai teknik membesarkan, bahkan setelah pembentukan teknik produksi benih Kalkan.

MATERI DAN METODE

Persiapan wadah
Turbot dipelihara dalam wadah yang terbuat dari besi, beton, batu bata, atau fiber glass dengan kedalaman wadah kurang dari 100 cm dengan kedalaman air kurang dari 70 cm. Bentuk wadah bisa kotak, melingkar dan mengerucut. Turbot membutuhkan media air yang dingin, temperatur air tidak boleh lebih dari 18ºC karena jika lebih akan menyulitkan budidaya Turbot. Turbot membutuhkan air yang bersih. Untuk itu, suplai air harus bebas dari segala jenis larutan kimia ataupun kontaminasi biologis.
Untuk mengendalikan intensitas cahaya dan untuk meminimalkan perubahan mendadak peningkatan suhu air serta untuk mencegah perubahan mendadak salinitas dari hujan lebat, tangki pemeliharaan dalam ruangan juga bisa digunakan.
Ikan Turbot dapat kehilangan nafsu makan apabila dihadapkan dengan intensitas cahaya yang tinggi. Selain itu sinar matahari langsung memungkinkan tumbuhnya zat yang tidak menguntungkan di dalam tangki, sehingga Turbot sangat mudah terinfeksi parasit dan bakteri.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk budidaya ikan Turbot fasilitas indoor membutuhkan shading yang tepat. Untuk tujuan ini bahan industri murah harus dimanfaatkan untuk meminimalkan biaya investasi awal. Disarankan untuk menginstal ventilasi di bagian atas atap untuk melepaskan udara panas di daerah budidaya selama musim panas.

Pemeliharaan induk
Pemilihan indukan masih banyak dilakukan dengan mengambil stok indukan dari alam bebas. Pakan untuk indukan berupa cincangan ikan-ikan kecil 13-17% dari total biomassa untuk indukan Turbot muda dan 5-9% dari total biomassa untuk indukan yang lebih besar tiap minggu. Selain itu diinjeksikan suplemen terutama vitamin C 600mg/kg ikan dan E 800mg/kg ikan tiap minggu.
Dalam penangkaran induk untuk rentang turbot dengan tangki bervolume 4-10 m3, dan biasanya penuh dengan ikan kepadatan hingga 10 kg/m2, dengan jantan : betina rasio 1:1. Tangki yang disertakan dengan suhu air yang dikendalikan dalam rangka mempertahankan kondisi optimum, biasanya mencerminkan kondisi di North Sea. Pertukaran air umumnya cukup rendah, tetapi aktif, air jarang diperlukan untuk induk turbot di sebagian penetasan di wilayah Eropa. Pemanasan air dari hatchery induk mungkin lebih diperlukan.
Perkembangan hatchery turbot tergantung pada pengendalian produksi telur yang dikeluarkan dari pemijahan kultivan. Teknik pemijahan pertama turbot terdiri dari pengumpulan telur yang dibuahi secara alami dalam tangki, dengan atau tanpa hormon synchronization.3-5. Sekarang pematangan alami diikuti oleh gamet pengupasan dari jantan dan betina lebih diminati dalam pembenihan.

Proses pemijahan
Turbot dapat distripping secara manual selama musim bertelur, dengan betina berovulasi beberapa kali selama musim, pada siklus yang bervariasi antara individu tetapi yang umumnya 2,5-3 hari. Bobot indukan biasanya bervariasi, dan jantan biasanya lebih kecil dari betina. Stripping biasanya dilakukan di luar tangki induk karena kemudahan penanganan turbot dewasa. Fertilisasi terjadi segera setelah pengumpulan telur, dan baik teknik basah dan kering dapat digunakan.
Setiap betina dapat bertelur beberapa kali, hingga 12 kali bertelur per musim. Jumlah telur yang dikumpulkan per kg betina tiap musim bertelur sangat bervariasi., rata-rata 430.000. Rata-rata jumlah yang layak embrio yang dihasilkan oleh pembuahan buatan tergantung pada keterlambatan diamati antara waktu ovulasi dan stripping. Setelah pengupasan, telur dan sperma dicampur tanpa air laut. Lima sampai sepuluh menit kemudian, air laut dituangkan di atas sel. Telur tersebut kemudian ditempatkan dalam inkubator. Nilai rata-rata dari tingkat viabilitas (embrio dikeluarkan dari telur dilucuti) adalah 33%. Hasil serupa mungkin diperoleh dengan pemijahan alami.

Inkubasi
Sekitar 80-90% dari telur yand distripping dari betina yang baik akan tampak benar-benar dibuahi dan mampu diinkubasi, dan ini dilakukan dalam bak berbentuk kerucut dengan volume sekitar 70 L. Pengendalian suhu air dan kebersihan sangat penting selama tahap ini - suhu optimum tampaknya berada di sekitar 12 º C, dan air biasanya disaring dan disterilkan dengan UV. Ada beberapa kecenderungan telur menggumpal bersama-sama, sehingga aerasi lembut umumnya digunakan untuk mencegah hal ini.
Telur mati yang turun ke bagian bawah bak kerucut selama inkubasi harus dihapus secara teratur untuk menjaga kualitas air. Untuk Itu bak inkubasi dapat dilengkapi dengan mekanisme pembilasan dasar, tapi tabung penyedot sederhana dari permukaan akan menghapus telur mati sangat efisien. Menjelang akhir inkubasi telur, (4 hari) telur dapat dijaring denagn lembut keluar dan permukaan disterilkan dengan asam peroxyacetic.


Pemeliharaan larva
            Larva yang baru menetas berukuran sekitar 3 mm, berat antara 0,1-0,2 mg, berbentuk simetris, dan vesikel yolk berkembang dengan baik. Saluran pencernaan dibedakan dan ditutup anterior, dan mata yang masih belum berfungsi. Ini adalah periode embrio. Antara hari ke 2 dan 3, mulut terbuka dan memakan secara eksogen dimulai sementara yolk sac cadangan dan globul minyak dengan cepat dimobilisasi dan akan menghilang pada hari ke 5 dan 7.
Setelah kuning telur habis,  makanan yang baik untuk larva Turbot adalah Nauplii dari calanoid copepoda karena kandungan asam lemak yang cocok untuk pertumbuhan larva. Selain itu dapat juga diberikan Rotifer Brachionus plicatilis (diberikan untuk larva berumur 10 hari) dan Brachiopod, Artemia (diberikan untuk larva berumur 3 hari).
Dalam perawatan larva ikan turbot pemberian antibiotik juga dibutuhkan. Antibiotik ditambahkan ke budidaya larva yang dapat diandalkan untuk mengontrol bakteri dan meningkatkan peluang merangsang kekebalan terhadap obat. Desinfeksi telur menggunakan yodium (I-PVP: beryodium-polyvinylpyrolidone di 4% o, selama 5 menit) dianjurkan.
Setelah menjalankan setiap penetasan, pemberian fasilitas desinfeksi diperlukan.

Tahap Penyapihan (Wheaning Phase)
            Menyapih dapat dimulai secara langsung dalam tangki larva 1 minggu sebelum perubahan fasilitas, tapi tangki khusus yang direkomendasikan untuk membatasi penanganan ikan selama penyapihan. Dua jenis tangki penyapihan yang digunakan yaitu, tangki melingkar dengan kerucut atau basis semi-bulat atau, datar, tangki melingkar atau persegi. Outlet harus dipasang dengan nilon keranjang jala besar yang diambil dari ketika makanan inert digunakan secara eksklusif. Tangki fiber glass 2 x 2 x 0,5 m yang paling umum.
Ukuran terbaik untuk pelet tergantung pada kadar air dan harus terus menerus disesuaikan dengan ukuran ikan. Makanan yang diberikan harus menarik ikan unntuk menyantapnya (bisa dengan diberi stimulan atau tekstur yang lembut). Ikan juga harus diberi air yang stabil untuk mencegah polusi yang berlebihan pada wadah.  Nutrisi yang harus mendapat perhatian lebih untuk juvenil turbot adalah HUFA dan vitamin. Protein dan lemak kasar berkisar antara 50-60% dan 10-15%.
Pelet basah digunakan pada awal penyapihan adalah diekstrusi melalui
lubang berukuran 630-1000
µm. Ukuran kering runtuh umumnya meningkat 400-600 (50-500 mg ikan) untuk 630-800 µm (500 sampai 1000 mg ikan) dan 1.5 mm setelahnya.
Hasil fase menyapih (Weaning phase) yang baik adalah, dalam kondisi yang baik, 50% larva mendapatkan asupan makanan buatan dan mencapai tingkat kelangsungan hidup sebesar 90% sampai hari ke-90 setelah penetasan dari telur. Hasil tersebut diperoleh pada skala percontohan (sebanyak 20.000 juvenil dari 100 mg berat awal).

Ongrowing phase
Sebaiknya dilakukan penyeragaman ukuran pada wadah-wadah yang berbeda. Dilakukan pada wadah yang dangkal dan besar berukuran 10m² pada bagian permukaannya dan kedalaman 0.5-0.7m. Temperatur air berkisar 16-17ºC, kadar oksigen terlarut berkisar antara 3 ppm, salinitas antara 20-27 ppt. Kadar CO2 pada outlet berkisar antara 5ppm.
Makanan yang diberikan berupa pelet kering yang dapat tenggelam secara lambat di kolam. Pelet lembab bisa diberikan juga dan ikan yang berukuran lebih dari 10 gram dapat diberi cacing dan potongan ikan kecil meskipun akan mengakibatkan masalah  polusi air.
Hasil dari Ongrowing phase tergantung pada kondisi suhu dan makan
untuk hasil yang baik. Tingkat kelangsungan hidup rata-rata lebih dari 80%
dan laju pertumbuhan spesifik yang tinggi. Konversi pakan mungkin serendah 1,0 ataukurang (bahan kering biomassa basah).

Grow Out Phase
Dibandingkan dengan tahap pembibitan, metode growout yang sangat bervariasi dari negara ke negara dan dari pertanian ke pertanian. Teknik budidaya kolam yang luas, dengan atau tanpa tambahan makanan, belum dikembangkan untuk turbot. Namun, turbot dapat tumbuh di kepadatan tebar tinggi di berbagai macam tangki darat dan balapan atau bahkan jaring apung di laut. Kisaran volume tangki sekitar 20 sampai 100 m3, dan kedalaman yang efektif  adalah sekitar 1 m atau lebih. Dasar tangki pemeliharaan dibuat baik dari beton atau bingkai kayu dan lembar PVC.
Pakan yang diberikan adalah pellet kering dan basah juga tambahan cincangan ikan-ikan kecil. Pakan pelet basah lebih banyak diberikan daripada pakan pelet kering untuk menggemukan ikan.
            Pertumbuhan ikan betina terlihat lebih cepat daripada ikan jantan. Turbot yang siap panen dapat mencapai berat sebesar 3kg dalam 3 tahun. Ada pula Turbot yang dipanen sebesar 2-2.5kg di daerah perairan yang lebih dingin (14-18ºC) dan 1.5-2kg pada suhu sekitar 7-18ºC.

Pemanenan
Pemasaran Turbot biasanya dipasarkan utuh dan segar. Ukuran turbot Pan kadang-kadang dijual beku. Turbot mudah untuk panen karena aktivitas metabolisme rendah dan kurangnya epidermal. Karena permintaan lebih tinggi dari pasokan, saat ini tidak ada kompetisi antara budidaya Turbot dan penangkapan Turbot di lautan. Turbot hassil budidaya memiliki rasa yang sangat baik dan kesegaran yang berkualitas. Bahkan turbot dengan pigmentasi minim diterima dengan baik di pasar.


PEMBAHASAN
Dalam budidaya ikan turbot hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu persiapan wadah dimana wadah yang diunakan terbuat dari besi, beton, batu bata, atau fiber glass dengan kedalaman wadah kurang dari 100 cm dengan kedalaman air kurang dari 70 cm. Bentuk wadah bisa kotak, melingkar dan mengerucut. Pemeliharaan induk dengan cara induk diberi makan berupa cincangan ikan kecil-kecil 13-17% dari total biomassa untuk indukan.
Dalam pemeliharaan induk, induk diletakkan dalam tangki bervolume 4-10m3 dengan kepadatan hingga 10kg/m2 dan rasio jantan:beitina 1:1. Dalam proses pemijahannya Turbot dapat distripping secara manual selama musim bertelur, dengan betina berovulasi beberapa kali selama musim. Stripping biasanya dilakukan di luar tangki induk karena kemudahan penanganan turbot dewasa. Fertilisasi terjadi segera setelah pengumpulan telur, dan baik teknik basah dan kering dapat digunakan. Sekitar 80-90% dari telur yand distripping dari betina yang baik akan tampak benar-benar dibuahi dan mampu diinkubasi, dan ini dilakukan dalam bak berbentuk kerucut dengan volume sekitar 70 L. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 3 mm, berat antara 0,1-0,2 mg, berbentuk simetris, dan vesikel yolk berkembang dengan baik. Saluran pencernaan dibedakan dan ditutup anterior, dan mata yang masih belum berfungsi.
Menyapih dapat dimulai secara langsung dalam tangki larva 1 minggu sebelum perubahan fasilitas, tapi tangki khusus yang direkomendasikan untuk membatasi penanganan ikan selama penyapihan. Setelah fase penyapihan tersisa 2 fase dalam pertumbuhan ikan turbot yaitu ongrowing phase dan grow out phase, dalam fase ini hal yang peru dilakukan yaitu penyeragaman ukuran pada wadah-wadah yang berbeda lalu diberikan pakan pelet basah atau kering secara teratur.



PENUTUP
Kesimpulan
Ikan Turbot (Psetta maxima) adalah spesies laut bentik. Ikan ini termasuk dalam jenis ikan demersal karena hidup di dasar berpasir dan berlumpur, dari perairan dangkal hingga 100 m. Ikan turbot merupakan ikan yang mengalami metamorfosis karena pada saat larva ikan ini seperti ikan normal lainnya, namun pada saat dewasa ikan ini bermetaforfosis sehingga berbentuk datar dan kedua matanya berada di satu sisi.
Ikan Turbot perlu dibudidayakan karena ikan Turbot yang berada di lautan mulai habis yang merupakan penyebab dari overfishing. Dalam budidaya ikan Turbot dibagi dalam beberapa tahapan yaitu, persiapan wadah pemeliharaan induk, Inkubasi, Pemeliharaan larva, tahap penyapihan, ongrowing phase, growout phase, dan yang terakhir pemanenan.


 DAFTAR PUSTAKA

Aksoy, A. Çeliköz, B., dkk. 2011. Kalkan (Psetta maxima) Culture Manual 4th Edition. Mediterranean Fisheries Research, Production and Training Institute.

Ali TURKER. 2005. Effects of Feeding Frequency on Growth, Feed Consumption,and Body Composition in Juvenile Turbot (Psetta maxima
Linnaeus, 1758) at Low Temperature. Faculty of Fisheries, Ondokuz MayÝs University, 57000 Sinop - TURKEY

İlhan Aydin , Temel Şahİn., dkk. 2009. Reproductive performance of turbot (Psetta maxima) in the southeastern Black Sea. Central Fisheries Research Institute 61250 Trabzon : Turkey.

Marina D. Panayotova, Valentina R. Todorova. 2008. Stocks, Distribution and Population Parameters of Turbot (Psetta maxima L.) in front of the Bulgarian Black Sea Coast in 2006. Institute of Oceanology – BAS, 9000 Varna, 40, Parvi Mai St., P.O.BOX.152, Bulgaria.

Person-Le Ruyet, Jeaniiine., Felix Baudin-Laurencin, dkk. Culture of Turbot (Scophthalmus maximus).






ZONASI KANDUNGAN NUTRIENT PADA PERAIRAN

Posted by Unknown | Posted in | Posted on 08.22

0

EKOLOGI PERAIRAN
"ZONASI KANDUNGAN NUTRIENT PADA PERAIRAN"



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Konsep ekosistem merupakan suatu yang luas, karena di dalamnya terjadi hubungan timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen-komponen penyusunnya, yang membentuk hubungan fungsional dan tidak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah ekosistem terjadi transfer energi antara komponennya yang bersumber dari sinar matahari melalui proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau berklorofil. Makhluk hidup lain yang tidak memiliki kemampuan berfotosintesis, menggunakan energi matahari ini dengan cara mengkonsumsi makhluk fotosintesis tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya sehingga terbentuk suatu rantai makanan (Nontji,2005).
Ekologi laut tropis mencakup berbagai macam ekosistem yang berada pada daerah tropis. Aspek yang ditelaah mengenai lamun, terumbu karang, dan mangrove. Interaksi yang terpenting dari ketiga ekosistem tersebut yakni fisik, bahan organic terlarut, bahan organic partikel, migrasi fauna, dan dampak manusia. Struktur dan sifat fisik ketiga ekosistem tersebut saling mendukung. Apabila, ekosistem tersebut terganggu, maka akan menyebabkan ekosistem lainnya terganggu juga. Padang lamun yang berdekatan dengan terumbu karang merupakan padang penggembalaan ikan-ikan karang yang besar
Di laut ada dua kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanan grazing (grazing food chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain). Kedua jenis rantai makanan tersebut saling melengkapi dan membentuk sebuah siklus yang kontinus. Rantai makanan grazing dimulai dari proses transfer makanan pertama kali oleh organisme herbivora melalui proses grazing. Makanan pertama itu berupa fitoplankton dan herbivor yang memanfatkan fitoplankton adalah zooplankton. Mata rantai pertama pada rantai makanan ini adalah fitoplankton yang merupakan sumber pertama bagi seluruh kehidupan di laut. Ujung dari rantai makanan ini adalah konsumer tingkat tinggi (seperti ikan dan konsumer lainnya) yang apabila mengalami kematian akan menjadi detritus pada ekosistem laut.



Pembagian zonasi pada laut:
1.                       Zona Upwelling
2.                       Zona High Nutrients shift up of classical food web
3.                       Zona Maximum phytoplankton biomass
4.                       Zona Maximum zooplankton biomass
5.                       Zona Transition to microbial food web
6.                       Low nutrien Steady state microbial food web

1.2.Tujuan
1.      Mengetahui pembagian zona pada ekosistem laut
2.      Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari 6 zona tersebut

  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Upwelling
Upwelling merupakan gerak vertikal arus laut dari dasar laut yang memiliki temperatur yang dingin serta kaya akan nutrisi, ke arah permukaan laut.
Sebaiknya downwelling merupakan gerak vertikal dari permukaan laut yang hangat ke arah bawah yang membawa kandungan senyawa oksigen. Fenomena gerak arus yang berlawanan arah ini akan terus bergulir seirama dengan perbuahan iklim dan revolusi pergantian waktu siang dan malam.
Adanya proses upwelling disuatu perairan umumnya akan meningkatkan produktivitas perairan. Namun besar pengaruh dari upwelling ini dapat berbeda berdasrkan tempat dan waktu. Adanya perbedaan durasi (lama kejadian) dan intensitas (kekuatan) dari upwelling dapat mempengaruhi variabilitas produktivitas primer wilayah perairan Indonesia.
Kandungan nutrien yang tinggi umumnya ditemukan di lapisan dalam dengan tingkat pencahayaan yang rendah, untuk itu diperlukan suatu proses tertentu untuk menjamin ketersediaan nutrien di lapisan permukaan. Salah satunya adalah proses upwelling, yang merupakan istilah untuk menyatakan proses naiknya massa air dari bawah ke permukaan laut, dimana dari kajian-kajian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa daerah upwelling merupakan daerah lepas pantai paling produktif (Nontji, 1993). Wilayah upwelling umumnya ditandai oleh kandungan nutrien yang tinggi dan temperatur permukaan yang lebih rendah dari sekitarnya.
Terjadinya arus upwellling dan downwelling, karena :
1. Karena posisi edar matahari di ekuator, menjadikan temperatur permukaan bumi di lautan menjadi hangat. Air yang hangat ini bergerak ke arah dimana temperaturnya lebih rendah yaitu di bagian dalam lalu menyebar pergerakannya ke bagian permukaan air dibelahan terjauh dari ekuator (equatorial upwelling).
2. Pertemuan 2 atau lebih arus di permukaan yang saling bertentangan arah. Kala pertemuan arus permukaan air itu saling bertemu, maka mau tak mau arus air dari permukaan akan bergerak ke bawah (downwelling).
3. Gerak angin yang terjadi di pesisir pantai bisa menyebabkan terjadinya upwelling dan downwelling atau mempercepat akselerasi perputaran siklus dari kedua fenomena itu (coastal upwelling and coastal downwelling) apalagi jika distimulasi oleh pengaruh celestial seperti daya gravitasi bulan dan gerak rotasi bumi yang berlawanan maupun sebaliknya.
4. Kontur permukaan dasar laut juga bisa menjadi penyebab terjadinya kedua fenomena itu, seperti terdapatnya dasar laut yang sangat curam dan menyempit dimana arus gerak air semakin cepat akselerasinya.
Gerak arus air bisa memberikan keuntungan maupun kerugian. Arus siklus upwelling maupun downwelling yang terlalu ekstrim justru bisa merugikan kelangsungan hidup suatu habitat ekosistem. Namun lewat perkembangan teknologi maritim, siklus downwelling dan upwelling justru bisa dimanfaatkan sebagai faktor pembangkit turbin bagi tenaga potensial air yang digerakkan oleh kekuatan arus serta perbedaan temperatur yang ekstrim.

2.2. High nutrient shift-up of classical food web
Pada zona ini terdapat kandungan nutrisi yang tinggi karena terdapat fitoplankton yang mendapatkan energi dari matahari untuk membentuk bahan organik. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukan fitoplankton, fitoplankton mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan. Tingkat produktivitas primer suatu perairan umumnya berhubungan dengan tingkat kelimpahan sumber daya suatu perairan, dimana produktivitas primer sebagai laju fotosintesis dapat dinyatakan sebagai jumlah gram karbon yang dihasilkan dalam satu meter kuadrat kolom air per hari (gCm-2 per hari). Net primary productivity (NPP) atau Produktivitas primer bersih juga menyatakan karbon yang tersedia untuk tingkat trofik yang lebih tinggi.
        Perairan Indonesia yang luas memiliki potensi sumber daya laut yang besar namun tidak merata pada seluruh wilayahnya. Beberapa wilayah perairan memiliki sumber daya alam yang melimpah namun sebagian lagi tidak demikian. Hal ini disebabkan perbedaan tingkat kesuburan perairan yang dapat diidentifikasi berdasarkan tingkat produktivitas primernya. Tingkat produktivitas suatu perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor, tiga faktor utama adalah ketersediaan nutrien, cahaya dan temperatur. Nutrien dibutuhkan oleh fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak, cahaya dibutuhkan oleh fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotositesis, sedangkan temperatur mempengaruhi laju fotosintesis dan distribusi fitoplankton di suatu kolom perairan. Fitoplankton sendiri merupakan produsen utama di perairan laut yang berperan dalam menghasilkan produktivitas primer.

2.3. Zona Maximum phytoplankton biomass
Pada zona ini terdapat kelimpahan fitoplankton. Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) laut terbuka dan lingkungan pantai. Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau "tanaman" dan “planktos” berarti "pengembara" atau "penghanyut”. Walaupun bentuk uniseluler/bersel tunggal meliputi hampir sebagian besar fitoplankton, beberapa alga hijau dan alga biru-hijau ada yang berbentuk filamen (yaitu sel-sel yang berkembang seperti benang)
Kondisi fitoplankton baik keanekaragaman dan distribusi fitoplanktonnya dipengaruhi pula oleh berbagai faktor, seperti faktor atmosfer, lokasi dan kondisi lingkungan di perairan tersebut. Pasokan massa air yang banyak membawa nutrient dan berbagai jenis material padatan dari Estuaria sangat mempengaruhi perairan laut, oleh karena itu akan berdampak terhadap kelimpahan dan struktur komunitas fitoplankton yang merupakan produsen primer dalam piramida makanan di suatu ekosistem perairan. Selanjutnya fitoplankton juga berperan dalam kesuburan perairan yaitu sebagai penyedia oksigen terlarut melalui proses fotosintesa (Arinardi, et al., 1997).
Fitoplankton memiliki distribusi dan kelimpahan yang berbeda-beda di dalam perairan. Hal ini tergantung dari kondisi beberapa faktor oseanografi pada perairan tersebut, yang meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan dan arah arus, suhu, salintas, oksigen terlarut dan nutrien. Faktor biotik yang juga turut berperan dalam distribusi dan kelimpahan fitoplankton adalah kompetisi nutrient, ruang dan lingkungan serta predasi.

2.4. Zona Maximum zooplankton biomass
Pada zona ini terdapat kelimpahan zooplankton. Zooplankton merupakan plankton hewani yang hidupnya mengapung, mengambang atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya (Nybakken 1992). Zooplankton bersifat heterotrofik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya zooplankton memanfaatkan bahan organik yang dihasilkan oleh organisme fitoplanktonik (plankton nabati). Pada umumnya zooplankton berukuran 0,2-2 mm (Sidabutar 2010). Zooplankton sangat beranekaragam dan terdiri dari berbagai macam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Davis 1955). Zooplankton merupakan komponen penting dalam ekosistem perairan (Thoha 2007).
Perubahan lingkungan dan ketersediaan makanan yang terjadi pada suatu perairan akan mempengaruhi kelimpahan zooplankton. Apabila kondisi lingkungan sesuai dengan kebutuhan zooplankton maka akan terjadi proses pemangsaan fitoplankton oleh zooplankton. Jika kondisi lingkungan dan ketersediaan fitoplankton tidak sesuai dengan kebutuhan zooplankton maka zooplankton tidak dapat bertahan hidup dan akan mencari kondisi lingkungan yang sesuai (Thoha 2004). Hal ini dapat mempengaruhi rantai makanan dalam ekosistem perairan (Nybakken 1992). Perairan Laut Bangka mempunyai peranan penting sebagai sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Bangka. Penelitian terpadu telah dilakukan oleh Thoha (2004) bersama Pusat Penelitian Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kawasan Perairan Bangka–Belitung. Penelitian tersebut baru mengamati kelimpahan plankton di bagian utara Bangka-Belitung, sehingga secara keseluruhan kelimpahan zooplankton di Perairan Laut Bangka belum diketahui. Tersedianya data dan informasi yang lengkap sangat diperlukan untuk Kawasan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Laut (KAPPEL) sebagai sumberdaya perikanan di Perairan Laut Bangka ke depan. Pentingnya peranan zooplankton di perairan maka penelitian tentang kelimpahan zooplankton di Perairan Laut Bangka perlu dilakukan.
 Di perairan, zooplankton memiliki fungsi dan manfaat yang besar. Beberapa kegunaan zooplankton secara ekologis diantaranya adalah (1) Sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil yang dapat mempengaruhi rantai makanan dalam ekosistem perairan (Nybakken 1992). (2) Sebagai sumber makanan bagi semua jenis larva ikan pelagis (Arinardi et al. 1997). (3) Zooplankton juga berperan sebagai indikator biologis suatu perairan (Newell et al. 1977). (4) Banyaknya zooplankton (khususnya meroplankton) di perairan tertentu dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa perairan tersebut merupakan tempat asuhan atau pemijahan bagi biota (Basmi 1995).

2.5. Zona Transition to microbial food web
Jaring makanan mikroba mengacu pada interaksi trofik gabungan antara mikroba di lingkungan perairan . Mikroba ini termasuk virus , bakteri , ganggang , protista heterotrofik (seperti ciliates dan flagelata ) .Dalam lingkungan perairan , mikroba merupakan dasar jaring makanan . Organisme tunggal bersel fotosintetik seperti diatom dan cyanobacteria umumnya produsen utama yang paling penting di laut terbuka . Banyak dari sel , terutama cyanobacteria terlalu kecil untuk ditangkap dan dikonsumsi oleh krustasea kecil dan larva planktonik . Sebaliknya, sel-sel ini dikonsumsi oleh protista phagotrophic yang mudah dikonsumsi oleh organisme yang lebih besar .
Virus dapat menginfeksi dan merusak sel-sel bakteri terbuka dan (pada tingkat lebih rendah), planktonik alga. Oleh karena itu, virus dalam mikroba bertindak web makanan untuk mengurangi populasi bakteri dan , dengan melisiskan sel bakteri, dissolved organic carbon ( DOC) . DOC juga dapat dilepaskan ke lingkungan oleh sel alga. Salah satu alasan fitoplankton melepaskan DOC karena pertumbuhan yang tidak seimbang yaitu ketika nutrisi penting ( misalnya nitrogen dan fosfor ) yang dibutuhkan terbatas. Oleh karena itu, karbon yang dihasilkan selama fotosintesis tidak digunakan untuk sintesis protein ( dan pertumbuhan sel berikutnya ), tetapi terbatas karena kekurangan gizi yang diperlukan untuk makromolekul. Kelebihan fotosintat, atau DOC kemudian akan dilepaskan. Pada beberapa titik dalam lapisan mixed (epilimnion) di zona ini, titik kompensasi antara produksi dan dekomposisi bahan organik tercapai. Setelah titik ini, produksi autochtonous dari bahan organik di lapisan epilimnion mulai mendominasi. Sedimentasi partikulat inorganik rendah, penetrasi cahaya cukup mendukung produksi primer dengan nutrien terbatas.

2.6. Low nutrien Steady state microbial food web
Pada zona ini kandungan nutrisi sangat kecil. Konsentrasi nutrien terlarut lebih rendah dan partikel suspensi abiogenik, transparansi yang tinggi, dan lapisan fotik yang lebih dalam. Volumetrik produktifitas fitoplankton berkurang (karena keterbatasan nutrien) selama musim pertumbuhan dan didukung terutama siklus nutrien in situ daripada nutrien adveksi (Thornton et al., 1990).
  

BAB III
KESIMPULAN

Dalam ekosistem laut terdapat 6 pembagian zonasi yaitu zona Upwelling, zona High Nutrients shift up of classical food web, zona Maximum phytoplankton biomass, zona Maximum zooplankton biomass, zona Transition to microbial food web, dan zona Low nutrien Steady state microbial food web. Setiap zona di laut memiliki kandungan nutrisi yang berbeda – beda. Dalam hal ini, kehadiran plankton sanngatlah penting dimana biota produsen memanfaatkan sinar matahari dan plankton untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Selain itu nutrien dibutuhkan oleh fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak, cahaya dibutuhkan oleh fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotositesis, sedangkan temperatur mempengaruhi laju fotosintesis dan distribusi fitoplankton di suatu kolom perairan. Fitoplankton sendiri merupakan produsen utama di perairan laut yang berperan dalam menghasilkan produktivitas primer. Dengan demikian, apabila kebutuhan nutrisi produsen terpenuhi dengan baik, maka kebutuhan konsumen tingkat I juga akan terpenuhi dengan baik.








DAFTAR PUSTAKA

Agus Sediadi. 2004. EFFEK UPWELLING TERHADAP KELIMPAHAN DAN DISTRIBUSI FITOPLANKTON DI PERAIRAN LAUT BANDA DAN SEKITARNYA. Bidang Kerjasama dan Jasa Jaringan Informasi, Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta

Widianingsih, dkk. 2007. Kelimpahan dan Sebaran Horizontal Fitoplankton
di Perairan Pantai Timur Pulau Belitung. Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta


Yohannis Wenno dan Amelian Dinisia Wenno. Komposisi Dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Pantai Kelurahan Tekolabbua, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar