ZONASI KANDUNGAN NUTRIENT PADA PERAIRAN
Posted by Unknown | Posted in | Posted on 08.22
EKOLOGI PERAIRAN
"ZONASI KANDUNGAN NUTRIENT PADA PERAIRAN"
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Konsep ekosistem merupakan suatu
yang luas, karena di dalamnya terjadi hubungan timbal balik dan saling
ketergantungan antara komponen-komponen penyusunnya, yang membentuk hubungan fungsional
dan tidak dapat dipisahkan. Di dalam sebuah ekosistem terjadi transfer energi
antara komponennya yang bersumber dari sinar matahari melalui proses
fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan hijau berklorofil. Makhluk hidup lain
yang tidak memiliki kemampuan berfotosintesis, menggunakan energi matahari ini
dengan cara mengkonsumsi makhluk fotosintesis tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya
sehingga terbentuk suatu rantai makanan (Nontji,2005).
Ekologi laut tropis mencakup
berbagai macam ekosistem yang berada pada daerah tropis. Aspek yang ditelaah
mengenai lamun, terumbu karang, dan mangrove. Interaksi yang terpenting dari
ketiga ekosistem tersebut yakni fisik, bahan organic terlarut, bahan organic partikel,
migrasi fauna, dan dampak manusia. Struktur dan sifat fisik ketiga ekosistem
tersebut saling mendukung. Apabila, ekosistem tersebut terganggu, maka akan
menyebabkan ekosistem lainnya terganggu juga. Padang lamun yang berdekatan
dengan terumbu karang merupakan padang penggembalaan ikan-ikan karang yang
besar
Di laut ada dua
kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanan grazing
(grazing food chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain).
Kedua jenis rantai makanan tersebut saling melengkapi dan membentuk sebuah
siklus yang kontinus. Rantai makanan grazing dimulai dari proses transfer
makanan pertama kali oleh organisme herbivora melalui proses grazing. Makanan
pertama itu berupa fitoplankton dan herbivor yang memanfatkan fitoplankton
adalah zooplankton. Mata rantai pertama pada rantai makanan ini adalah
fitoplankton yang merupakan sumber pertama bagi seluruh kehidupan di laut.
Ujung dari rantai makanan ini adalah konsumer tingkat tinggi (seperti ikan dan
konsumer lainnya) yang apabila mengalami kematian akan menjadi detritus pada
ekosistem laut.
Pembagian zonasi pada laut:
1.
Zona Upwelling
2.
Zona High Nutrients
shift up of classical food web
3.
Zona Maximum
phytoplankton biomass
4.
Zona Maximum zooplankton
biomass
5.
Zona Transition to
microbial food web
6.
Low nutrien Steady state microbial food web
1.2.Tujuan
1.
Mengetahui
pembagian zona pada ekosistem laut
2.
Mengetahui
kelebihan dan kekurangan dari 6 zona tersebut
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Upwelling
Upwelling merupakan
gerak vertikal arus laut dari dasar laut yang
memiliki temperatur yang dingin serta kaya akan nutrisi, ke arah
permukaan laut.
Sebaiknya downwelling merupakan gerak vertikal dari permukaan laut yang hangat ke arah bawah yang membawa kandungan senyawa oksigen. Fenomena gerak arus yang berlawanan arah ini akan terus bergulir seirama dengan perbuahan iklim dan revolusi pergantian waktu siang dan malam.
Sebaiknya downwelling merupakan gerak vertikal dari permukaan laut yang hangat ke arah bawah yang membawa kandungan senyawa oksigen. Fenomena gerak arus yang berlawanan arah ini akan terus bergulir seirama dengan perbuahan iklim dan revolusi pergantian waktu siang dan malam.
Adanya proses upwelling disuatu
perairan umumnya akan meningkatkan produktivitas perairan. Namun besar pengaruh
dari upwelling ini dapat berbeda berdasrkan tempat dan waktu. Adanya
perbedaan durasi (lama kejadian) dan intensitas (kekuatan) dari upwelling dapat
mempengaruhi variabilitas produktivitas primer wilayah perairan Indonesia.
Kandungan nutrien yang tinggi
umumnya ditemukan di lapisan dalam dengan tingkat pencahayaan yang rendah,
untuk itu diperlukan suatu proses tertentu untuk menjamin ketersediaan nutrien
di lapisan permukaan. Salah satunya adalah proses upwelling, yang merupakan
istilah untuk menyatakan proses naiknya massa air dari bawah ke permukaan laut,
dimana dari kajian-kajian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa daerah upwelling
merupakan daerah lepas pantai paling produktif (Nontji, 1993). Wilayah upwelling
umumnya ditandai oleh kandungan nutrien yang tinggi dan temperatur
permukaan yang lebih rendah dari sekitarnya.
Terjadinya
arus upwellling dan downwelling, karena :
1. Karena posisi edar matahari di
ekuator, menjadikan temperatur permukaan bumi di lautan menjadi hangat. Air
yang hangat ini bergerak ke arah dimana temperaturnya lebih rendah yaitu di
bagian dalam lalu menyebar pergerakannya ke bagian permukaan air dibelahan
terjauh dari ekuator (equatorial upwelling).
2. Pertemuan 2 atau lebih arus di
permukaan yang saling bertentangan arah. Kala pertemuan arus permukaan air itu
saling bertemu, maka mau tak mau arus air dari permukaan akan bergerak ke bawah
(downwelling).
3. Gerak angin yang terjadi di
pesisir pantai bisa menyebabkan terjadinya upwelling dan downwelling atau
mempercepat akselerasi perputaran siklus dari kedua fenomena itu
(coastal upwelling and coastal downwelling) apalagi jika distimulasi oleh
pengaruh celestial seperti daya gravitasi bulan dan gerak rotasi bumi yang
berlawanan maupun sebaliknya.
4. Kontur permukaan dasar
laut juga bisa menjadi penyebab terjadinya kedua fenomena itu, seperti
terdapatnya dasar laut yang sangat curam dan menyempit dimana arus gerak air
semakin cepat akselerasinya.
Gerak arus air bisa memberikan
keuntungan maupun kerugian. Arus siklus upwelling maupun downwelling yang
terlalu ekstrim justru bisa merugikan kelangsungan hidup suatu habitat
ekosistem. Namun lewat perkembangan teknologi maritim, siklus downwelling dan
upwelling justru bisa dimanfaatkan sebagai faktor pembangkit turbin bagi tenaga
potensial air yang digerakkan oleh kekuatan arus serta perbedaan temperatur
yang ekstrim.
2.2.
High nutrient shift-up of classical food web
Pada zona ini terdapat kandungan
nutrisi yang tinggi karena terdapat fitoplankton yang mendapatkan energi dari
matahari untuk membentuk bahan organik. Melalui
proses fotosisntesis yang dilakukan fitoplankton, fitoplankton mampu menjadi
sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan. Tingkat
produktivitas primer suatu perairan umumnya berhubungan dengan tingkat
kelimpahan sumber daya suatu perairan, dimana produktivitas primer sebagai laju
fotosintesis dapat dinyatakan sebagai jumlah gram karbon yang dihasilkan dalam
satu meter kuadrat kolom air per hari (gCm-2 per hari). Net primary
productivity (NPP) atau Produktivitas primer bersih juga menyatakan karbon
yang tersedia untuk tingkat trofik yang lebih tinggi.
Perairan Indonesia yang luas memiliki potensi sumber daya
laut yang besar namun tidak merata pada seluruh wilayahnya. Beberapa wilayah
perairan memiliki sumber daya alam yang melimpah namun sebagian lagi tidak
demikian. Hal ini disebabkan perbedaan tingkat kesuburan perairan yang dapat
diidentifikasi berdasarkan tingkat produktivitas primernya. Tingkat
produktivitas suatu perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor, tiga faktor
utama adalah ketersediaan nutrien, cahaya dan temperatur. Nutrien dibutuhkan
oleh fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak, cahaya dibutuhkan oleh
fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotositesis, sedangkan temperatur
mempengaruhi laju fotosintesis dan distribusi fitoplankton di suatu kolom
perairan. Fitoplankton sendiri merupakan produsen utama di perairan laut yang
berperan dalam menghasilkan produktivitas primer.
2.3. Zona Maximum phytoplankton
biomass
Pada zona
ini terdapat kelimpahan fitoplankton. Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik
(bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian
atas perairan (zona fotik) laut terbuka dan lingkungan pantai. Nama
fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau
"tanaman" dan “planktos” berarti "pengembara" atau "penghanyut”.
Walaupun bentuk uniseluler/bersel tunggal meliputi hampir sebagian besar
fitoplankton, beberapa alga hijau dan alga biru-hijau ada yang berbentuk
filamen (yaitu sel-sel yang berkembang seperti benang)
Kondisi
fitoplankton baik keanekaragaman dan distribusi fitoplanktonnya dipengaruhi
pula oleh berbagai faktor, seperti faktor atmosfer, lokasi dan kondisi
lingkungan di perairan tersebut. Pasokan massa air yang banyak membawa nutrient
dan berbagai jenis material padatan dari Estuaria sangat mempengaruhi perairan laut,
oleh karena itu akan berdampak terhadap kelimpahan dan struktur komunitas
fitoplankton yang merupakan produsen primer dalam piramida makanan di suatu
ekosistem perairan. Selanjutnya fitoplankton juga berperan dalam kesuburan
perairan yaitu sebagai penyedia oksigen terlarut melalui proses fotosintesa (Arinardi,
et al., 1997).
Fitoplankton
memiliki distribusi dan kelimpahan yang berbeda-beda di dalam perairan. Hal ini
tergantung dari kondisi beberapa faktor oseanografi pada perairan tersebut,
yang meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan dan arah arus, suhu, salintas,
oksigen terlarut dan nutrien. Faktor biotik yang juga turut berperan dalam
distribusi dan kelimpahan fitoplankton adalah kompetisi nutrient, ruang dan
lingkungan serta predasi.
2.4. Zona Maximum zooplankton biomass
Pada zona
ini terdapat kelimpahan zooplankton. Zooplankton merupakan plankton hewani yang
hidupnya mengapung, mengambang atau melayang di dalam air yang kemampuan
renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus
membawanya (Nybakken 1992). Zooplankton bersifat heterotrofik. Oleh karena itu,
untuk kelangsungan hidupnya zooplankton memanfaatkan bahan organik yang
dihasilkan oleh organisme fitoplanktonik (plankton nabati). Pada umumnya
zooplankton berukuran 0,2-2 mm (Sidabutar 2010). Zooplankton sangat
beranekaragam dan terdiri dari berbagai macam larva dan bentuk dewasa yang mewakili
hampir seluruh filum hewan (Davis 1955). Zooplankton merupakan komponen penting
dalam ekosistem perairan (Thoha 2007).
Perubahan
lingkungan dan ketersediaan makanan yang terjadi pada suatu perairan akan
mempengaruhi kelimpahan zooplankton. Apabila kondisi lingkungan sesuai dengan
kebutuhan zooplankton maka akan terjadi proses pemangsaan fitoplankton oleh
zooplankton. Jika kondisi lingkungan dan ketersediaan fitoplankton tidak sesuai
dengan kebutuhan zooplankton maka zooplankton tidak dapat bertahan hidup dan
akan mencari kondisi lingkungan yang sesuai (Thoha 2004). Hal ini dapat
mempengaruhi rantai makanan dalam ekosistem perairan (Nybakken 1992). Perairan
Laut Bangka mempunyai peranan penting sebagai sumberdaya perikanan laut di
Kabupaten Bangka. Penelitian terpadu telah dilakukan oleh Thoha (2004) bersama
Pusat Penelitian Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di
Kawasan Perairan Bangka–Belitung. Penelitian tersebut baru mengamati kelimpahan
plankton di bagian utara Bangka-Belitung, sehingga secara keseluruhan
kelimpahan zooplankton di Perairan Laut Bangka belum diketahui. Tersedianya
data dan informasi yang lengkap sangat diperlukan untuk Kawasan Pengembangan
dan Pengelolaan Wilayah Laut (KAPPEL) sebagai sumberdaya perikanan di Perairan
Laut Bangka ke depan. Pentingnya peranan zooplankton di perairan maka
penelitian tentang kelimpahan zooplankton di Perairan Laut Bangka perlu
dilakukan.
Di perairan, zooplankton memiliki fungsi dan
manfaat yang besar. Beberapa kegunaan zooplankton secara ekologis diantaranya
adalah (1) Sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar
dan kecil yang dapat mempengaruhi rantai makanan dalam ekosistem perairan
(Nybakken 1992). (2) Sebagai sumber makanan bagi semua jenis larva ikan pelagis
(Arinardi et al. 1997). (3) Zooplankton juga berperan sebagai indikator
biologis suatu perairan (Newell et al. 1977). (4) Banyaknya zooplankton
(khususnya meroplankton) di perairan tertentu dapat digunakan sebagai petunjuk
bahwa perairan tersebut merupakan tempat asuhan atau pemijahan bagi biota
(Basmi 1995).
2.5. Zona Transition to microbial food web
Jaring makanan mikroba mengacu pada interaksi trofik gabungan antara
mikroba di lingkungan perairan . Mikroba ini termasuk virus , bakteri ,
ganggang , protista heterotrofik (seperti ciliates dan flagelata ) .Dalam
lingkungan perairan , mikroba merupakan dasar jaring makanan . Organisme
tunggal bersel fotosintetik seperti diatom dan cyanobacteria umumnya produsen
utama yang paling penting di laut terbuka . Banyak dari sel , terutama
cyanobacteria terlalu kecil untuk ditangkap dan dikonsumsi oleh krustasea kecil
dan larva planktonik . Sebaliknya, sel-sel ini dikonsumsi oleh protista
phagotrophic yang mudah dikonsumsi oleh organisme yang lebih besar .
Virus dapat menginfeksi dan merusak sel-sel bakteri terbuka dan (pada
tingkat lebih rendah), planktonik alga. Oleh karena itu, virus dalam mikroba
bertindak web makanan untuk mengurangi populasi bakteri dan , dengan melisiskan
sel bakteri, dissolved organic carbon
( DOC) . DOC juga dapat dilepaskan ke lingkungan oleh sel alga. Salah satu
alasan fitoplankton melepaskan DOC karena pertumbuhan yang tidak seimbang yaitu
ketika nutrisi penting ( misalnya nitrogen dan fosfor ) yang dibutuhkan
terbatas. Oleh karena itu, karbon yang dihasilkan selama fotosintesis tidak
digunakan untuk sintesis protein ( dan pertumbuhan sel berikutnya ), tetapi
terbatas karena kekurangan gizi yang diperlukan untuk makromolekul. Kelebihan
fotosintat, atau DOC kemudian akan dilepaskan.
Pada beberapa titik dalam lapisan mixed (epilimnion) di zona ini, titik
kompensasi antara produksi dan dekomposisi bahan organik tercapai. Setelah
titik ini, produksi autochtonous dari bahan organik di lapisan epilimnion mulai
mendominasi. Sedimentasi partikulat inorganik rendah, penetrasi cahaya cukup
mendukung produksi primer dengan nutrien terbatas.
2.6. Low nutrien Steady state microbial food web
Pada zona ini
kandungan nutrisi sangat kecil. Konsentrasi
nutrien terlarut lebih
rendah dan partikel suspensi abiogenik, transparansi yang tinggi, dan lapisan
fotik yang lebih dalam. Volumetrik produktifitas fitoplankton berkurang (karena
keterbatasan nutrien) selama musim pertumbuhan dan didukung terutama siklus
nutrien in situ daripada nutrien adveksi (Thornton et al., 1990).
BAB
III
KESIMPULAN
Dalam
ekosistem laut terdapat 6 pembagian zonasi yaitu zona
Upwelling, zona High Nutrients shift up of classical food web, zona Maximum phytoplankton biomass, zona Maximum zooplankton biomass, zona Transition to microbial food web, dan zona Low
nutrien Steady state microbial food web. Setiap zona di laut memiliki kandungan nutrisi yang
berbeda – beda. Dalam hal ini, kehadiran plankton sanngatlah penting dimana
biota produsen memanfaatkan sinar matahari dan plankton untuk memenuhi
kebutuhan nutrisinya.
Selain itu nutrien dibutuhkan oleh
fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak, cahaya dibutuhkan oleh
fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotositesis, sedangkan temperatur
mempengaruhi laju fotosintesis dan distribusi fitoplankton di suatu kolom
perairan. Fitoplankton sendiri merupakan produsen utama di perairan laut yang
berperan dalam menghasilkan produktivitas primer. Dengan demikian, apabila kebutuhan nutrisi produsen terpenuhi dengan
baik, maka kebutuhan konsumen tingkat I juga akan terpenuhi dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus
Sediadi. 2004. EFFEK UPWELLING TERHADAP KELIMPAHAN DAN DISTRIBUSI FITOPLANKTON DI
PERAIRAN LAUT BANDA DAN SEKITARNYA. Bidang Kerjasama dan Jasa Jaringan Informasi,
Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta
Widianingsih, dkk. 2007. Kelimpahan dan Sebaran Horizontal Fitoplankton
di Perairan Pantai Timur Pulau Belitung.
Pusat
Penelitian Oseanografi - LIPI, Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta
Yohannis
Wenno dan Amelian Dinisia Wenno. Komposisi Dan Kelimpahan Fitoplankton di
Perairan Pantai Kelurahan Tekolabbua, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep,
Provinsi Sulawesi Selatan. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin
Makassar
Comments (0)
Posting Komentar